Program ECHO Green Berhasil Jangkau 99 Desa Turut Pamerkan Produk Pertanian
JAKARTA — Perempuan dan generasi muda tani di sektor pertanian, yang tergabung dalam ECHO Green, komitmen menjalankan programnya. Program tersebut bertujuan untuk mempromosikan Inisiatif Ekonomi Hijau. Digelarnya arara tersbut melalui Konsorsium Yayasan Penabulu, KpSHK dan Konsil LSM, bahkan didukung Delegation of the European Union to Indonesia and Brunei Darussalam.
“Jadi, dengan program ini dijalankan mulai Januari 2020 hingga Februari 2023, sejumlah 99 Desa dan 8 Kecamatan di Kabupaten Padang Pariaman, Grobogan dan Lombok Timur,” ujar Nasional Project Manager ECHO Green Dida Suwarida, Senin (27/2/2023), saat Closing Project yang berlangsung di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta.
Dia menyebutkan, bahwa dari hasil program ECHO Green, berhasil menjangkau 99 Desa. “Jadi, dengan program ini juga telah dirasakan sekitar 350 ribu penerima manfaatnya diantaranya 3 Kabupaten yakni, Kabupaten Padang Pariaman (Sumatera Barat), Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah) dan Kabupaten Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat),” ucap Dida.
Dijelaskannya, bahwa acara Closing Project tersebut, juga mempromosikan ekonomi hijau yang telah dilakukan oleh masing- masing Kelompok, Pemerintahan desa dan kabupaten dalam mendorong inisiatif ekonomi hijau.
Selain itu, dalam acara Closing Project yang diikuti peserta yang telah menerima manfaat dari program ECHO Green itu, juga digelar serangkaian panel diskusi yang sekaligus sebagai momen untuk mendapatkan dukungan dan komitmen di tingkat nasional untuk mempromosikan dan mereplikasi inisiatif ekonomi hijau di wilayah lain.
“Jadi, seperti berbagai produk pertanian hasil dari program ECHO Green ikut dipamerkan. Produk yang sudah dalam bentuk kemasan yang menarik itu sudah bisa dijual dengan brand lokal,” jelas Dida.
Sementara itu, Dubes Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei, Vincent Piket menjelaskan program ECHO Green yang sasarannya untuk mengedukasi petani, perempuan dan generasi muda tani tersebut 90% didanai Uni Eropa.
“Kemudian, dengan program ini sudah berjalan suskes dan kami harap program ini bisa dikembangkan di sini oleh pemerintah setempat yang telah menjadi project kami. Bahkan, kami senang ada dipamerkan produk hasil bumi yang sudah dalam bentuk produk kemasan,” ujar Vincent.
Ia menyebutkan, bahwa progam ECHO Green ini dijalankan Uni Eropa bekerja sama dengan Penabulu Foundation dalam tiga tahun belakangan ini. Progam ini sendiri telah menyasar 99 desa.
Maka, kami tidak mau begitu program ini selesai, kegiatan ini selesai. Kami ingin ada keberlanjutan, ucap Vincent.
Vincent menjelaskan, bahwa dalam program ECHO Green, pihaknya menguatkan kelembagaan Pemdes agar mampu menerapkan pertanian hijau. Dalam artian, pemupukan tidak dengan pupuk kimia, namun dengan pupuk organik. Karena, masyarakat perlu mengubah pola pikir, sehingga akan lebih mementingkan kesehatan lingkungan dalam aktivitas pertanian mereka.
“Jadi, kita perlu mencoba mengubah mindset warga desa untuk lebih memikirkan dampak lingkungan, dan kesehatan warganya. Artinya, untuk menghindari sebanyak mungkin bahan kimia. Karena ketika pupuk kimia digunakan, selesai panen, tanah akan rusak, tandasnya.
FALDI